Jumat, 18 Desember 2009

Pelepah Sawit Sebagai Alternatif Pakan Ternak

Untuk peningkatan pengembangan ternak, faktor utama yang dibutuhkan adalah ketersediaan pakan ternak, ditinjau dari luas lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun limbah pertanian dimungkinkan dapat mencukupi swasembada daging bahkan bisa eksport daging/lemak,hal ini bisa terjadi bila pengelolaan ternak dilaksanakan dengan sungguh –sungguh dan segala daya.

Provinsi Jambi mempunyai lahan kebun kelapa sawit saat ini mencapai 430.610 ha dengan sasaran perluasan sampai 1.000.000 ha.

Kebun kelapa sawit yang sudah produktif mampu memproduksi limbah dari pelepah sawit (OPF = Oil Palm Fronds) dalam 1 ha mampu menyediakan pelepah sawit/pakan ternak sebanyak 3 satuan ternak (3 ekor ternak sapi/kerbau dewasa). Jadi bila luas lahan sawit 430.610 ha mampu menyediakan pakan ternak sapi/kerbau sebanyak 1.200.000 ekor.

Selama ini pelepah sawit sebagai pakan ternak belum dimanfaatkan,baru dalam tahap uji coba.

Pada setiap panen tandan kelapa sawit harus menyertakan membuang pelepah sawitnya, dalam 1 bulan umumnya 2 kali panen, otomatis setiap bulan 1 (satu) batang sawit akan membuang pelepah sawit sebanyak 2 (dua) kali. Produksi pelepah sawit (OPF) :

· Produksi Bahan Kering (BK) = 10,4 ton/ha/tahun.

· Kebutuhan BK ternak dengan bobot 300 kg = 3 % x 300 kg = 9 kg.

· Kebutuhan BK selama 1 tahun = 9 kg x 365 hari = 3,285 ton.

· Jadi tiap ha lahan sawit dapat menjamin kebutuhan sebanyak 10,4 ton : 3,285 ton = 3 ST/tahun

· Jika hanya boleh diberikan 50 % dari suplai HMT, maka dapat memenuhi kebutuhan 6 ST/ha/tahun.


Perkembangan Pengolahan Pakan Pelepah Sawit

Pelepah sawit merupakan bahan/batang yang keras, berduri daunnya dan mengandung lidi sehingga sulit diolah menjadi pakan ternak. Pada awalnya pengolahan batang dikupas/dibuang kulit/lignin yang kerasnya, setelah itu baru dimasukkan Chopper, hasilnya langsung bisa dimakan oleh ternak. Namun masalahnya kesulitan mengupas kulit luarnya yang keras tersebut sehingga pengolahan pelepah sawit sebagai pakan ternak tidak dapat berjalan dengan baik.

Pada saat ini telah ditemukan mesin khusus yaitu Chopper pelepah sawit, dengan ciri khas : pisaunya minimal 30 buah yang sifatnya pemukul dan pemotong dengan perbandingan pisau 2 : 1. Pelepah yang masih ada daunnya langsung masuk chopper pelepah sawit dan hasilnya langsung bisa dimakan ternak.

Dengan penggunaan chopper kelapa sawit ini, hasil pakan ternak bisa melebihi kebutuhan pakan ternak hari itu,maka perlu adanya pengawetan pakan ternak tersebut yaitu dengan pembuatan silase pelepah sawit yang sudah di chopper. Bahan campurannya yaitu : molasses, pols, dedak dan onggok. Penyimpanan silase bisa dari drum plastik kedap udara, silase dapat disimpan/dipakai sebagai pakan ternak sampai tahunan atau bisa juga pelepah sawit yang sudah di chopper sebagai bahan dasar pembuatan pellet. (Ir. Suharno)

Peternakan Sapi Terkendala Soal Bibit

Sukabumi, Pelita
Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan, peternakan sapi kini menghadapi permasalahan penyediaan bibit dan pakan, sehingga menyebabkan peternak kesulitan memenuhi bibit dan peternak mengeluhkan tingginya bahan pakan.
Penyediaan bibit dan pakan menjadi kendala perkembangan peternakan sapi di Indonesia, ujar Anton kepada wartawan dalam kunjungan ke peternakan sapi, PT Karyana Mitra Utama di Kecamatan Parungkuda Kabupaten Sukabumi, Kamis (20/9/2007).
Anton mengatakan, berdasarkan hasil dialog dengan para peternak sapi diketahui bahwa penyediaan bibit sapi dan pakan masih menjadi keluhan.
Khusus untuk penyediaan bibit, pemerintah akan membangun pusat pembibitan di perkampungan dan pemerintah akan memberikan subsidi kepada pihak swasta dalam usaha pengadaan pembibitan dengan bunga maksimum lima persen.
Pusat pembibitan itu bisa saja digalakan oleh Pesantren dan pemberian subsisi itu sedang dalam proses dengan Menkeu, ujarnya.
Sedangkan masalah pakan ternak, Anton meminta petani memanfaatkan jerami secara optimal karena banyak petani yang masih belum menyadari keberadaanya dengan membakar jerami.
Selain itu, Anton menanggapi juga keluhan peternak dengan merencanakan melakukan proteksi dengan pakan khususnya bungkil sawit. Kalau memang sawit bagus untuk pakan akan kita lakukan proteksi, kata Anton.
Keluhan sulitnya mendapatkan pakan sebelumnya diungkapkan oleh salah seorang peternak sapi di Kabupaten Sukabumi, H Ato Rusdianto (40 tahun) yang menyebutkan pakan untuk sapi mahal karena bahan baku pakannya juga mahal.
Bahkan terkadang harga pakan konsentrat mengalami kenaikan di pasaran. Kondisi tersebut disebabkan pakan menghilang di pasaran ujarnya.
Peternak lainnya, Priyo Indrianto mengeluhkan masalah sulitnya mendapatkan bibit sapi yang berkualitas. Saya terpaksa mengambil bibit sapi dari luar Sukabumi yaitu dari Jawa Timur, katanya.
Sementara itu, Peternak pengemukan sapi dari PT Karyana Mitra Utama, Asri Arifin, menyebutkan, untuk pemberian pakan ternak agar ternak-ternak sapinya mudah gemuk, maka diperlukan pemberian pakan campuran, berupa konsentrat, bungkil sawit, kopra dan jerami.
Namun disayangkan, bungkil sawit yang dibutuhkan saat ini harganya mahal karena langka di pasaran, katanya seraya menyebutkan oleh sebab itu pihaknya meminta kepada pemerintah untuk melakukan proteksi terhadap bungkil sawit. (ant/sal)